Tingkat Konsumsi Energi dan Protein dengan Status Gizi Balita
I. Pendahuluan
Masalah kurang gizi dan gizi buruk merupakan masalah yang tidak asing lagi, namun tetap menjadi isu yang aktual, terutama di negara-negara berkembang dan di Indonesia, terutama pada anak balita. Status gizi masyarakat dapat dinilai dari keadaan gizi balita yang menjadi indikator utama kesehatan dan pertumbuhan mereka(1). Di Indonesia, gangguan gizi meliputi gangguan pertumbuhan fisik dan tingkat kecerdasan, yang disebabkan oleh kekurangan zat gizi seperti Kurang Energi Protein (KEP). Anak yang mengalami gangguan gizi akan terganggu pertumbuhan fisiknya dan berpotensi mengalami kecerdasan yang terhambat. Faktor penyebab utama gangguan gizi meliputi pola makan yang tidak memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya serta penyakit infeksi yang dapat menurunkan nafsu makan dan menyebabkan penderita kekurangan zat gizi secara keseluruhan (2).
Masalah gizi juga berhubungan erat dengan pola konsumsi makanan dan kesehatan anak. Konsumsi gizi yang tidak seimbang, baik dari segi jumlah maupun kualitas, dapat menyebabkan balita mengalami defisiensi zat gizi dan berpotensi menjadi gizi buruk. Pengasuhan dan lingkungan keluarga juga merupakan faktor yang mempengaruhi status gizi anak, di mana praktik pengasuhan yang tepat dapat membantu dalam pencegahan gizi buruk, meskipun keluarga tersebut berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda (3).
II. Metode
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, yakni pengukuran tingkat konsumsi energi dan protein serta status gizi balita dilakukan pada satu waktu tertentu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2020 di TK Bintang Ceria Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. Populasi penelitian mencakup seluruh balita yang bersekolah di TK tersebut, dengan jumlah total responden sebanyak 81 orang, sehingga mengikuti metode populasi total.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat konsumsi energi dan protein, sementara variabel dependen adalah status gizi balita. Data dikumpulkan melalui dua instrumen utama, yaitu kuesioner dan lembar observasi. Pengukuran konsumsi energi dan protein dilakukan menggunakan metode recall konsumsi makan selama tiga hari berturut-turut. Sedangkan status gizi diukur melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan dari setiap responden. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menghitung persentase dan distribusi data, serta analisis bivariat untuk mencari hubungan antar variabel menggunakan korelasi Spearman Rank. Data kemudian dianalisis untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita secara statistik, dengan pengujian tingkat signifikansi untuk menilai kekuatan dan makna hubungan tersebut.
III. Hasil dan pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki tingkat konsumsi energi dan protein dalam kategori baik dan status gizi yang normal. Specifically, dari 81 responden, 42,0% memiliki konsumsi energi yang baik, dan 39,5% memiliki konsumsi protein yang baik. Selain itu, mayoritas balita berada dalam status gizi normal, sebanyak 69,1%. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita. Nilai p-value untuk konsumsi energi adalah 0,011 dan untuk konsumsi protein adalah 0,000, yang keduanya kurang dari 0,05, sehingga hipotesis bahwa ada hubungan antara variabel-variabel tersebut diterima. Koefisien korelasi menunjukkan korelasi sedang, yaitu 0,282 untuk energi dan 0,581 untuk protein, menandakan bahwa peningkatan konsumsi energi dan protein berhubungan positif dengan status gizi yang lebih baik pada balita.
IV. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara tingkat konsumsi energi dan protein dengan status gizi balita. Sebagian besar balita yang mengonsumsi energi dan protein dalam kategori baik cenderung memiliki status gizi yang normal. Oleh karena itu, peningkatan perhatian terhadap asupan makanan, khususnya energi dan protein, sangat penting untuk memperbaiki dan mempertahankan status gizi balita serta meningkatkan derajat kesehatan anak secara keseluruhan.
V. Daftarpustaka
1. Handayani R. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Pada Anak Balita. J Endur. 2017;2(2):217.
2. Faridi A, Sagita R. Hubungan Pengeluaran, Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Keluarga, dan Tingkat Konsumsi Energi-Protein dengan Status Gizi Balita Usia 2-5 tahun. ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) [Internet]. 2016;1(1):11–21. Tersedia pada: http://repository.uhamka.ac.id/498/1/229-500-1-10-20170314.pdf
3. Hasrul, Hamzah, Hafid A. Pengaruh Pola Asuh Terhadap Status Gizi Anak : Influence of Foster Pattern About the Status of Child Nutrition. J Ilm Kesehat Sandi Husada [Internet]. 2020;9(2):792–7. Tersedia pada: https://akper-sandikarsa.e-journal.id/JIKSH
Web unusa : https://unusa.ac.id
Web fakultas kesehatan unusa : fkes.unusa.ac.id
Komentar
Posting Komentar